THE
DA VINCI CODE
Sabtu, 15 Des 2012
By : maya
sari_A131034
Sir Leigh Teibing
mengatakan bahwa untuk mengetahui apa yang sedang terjadi kita harus terlebih
dahulu mengerti Alkitab (hal. 311). Setelah pernyataan ini, seluruh isi Bab 55
menjadi landasan argumentasi untuk bab-bab selanjutnya. Dalam bab ini dia
menyerang kebenaran Alkitab dan keilahian Yesus Kristus dengan ‘membocorkan’
rahasia yang disimpan oleh gereja bahwa sebenarnya Yesus bukanlah Allah,
melainkan hanya seorang manusia biasa yang menikah dengan Maria Magdalena, dan
Alkitab bukanlah Firman Allah tetapi hanya merupakan produk manusia. Menurut The
Da Vinci Code, Yesus sebenarnya ingin menyerahkan kerajaan-Nya kepada
Maria Magdalena tetapi murid-murid-Nya mencoba menghentikan hal itu. Maka Injil
menggambarkan Maria Magdalena sebagai seorang pelacur yang hina dan isi Alkitab
juga mencoba menurunkan martabat wanita, seperti cerita yang direka di kitab
Kejadian yang menuduh wanita (Hawa) sebagai penyebab umat manusia jatuh ke
dalam dosa. Leigh Teibing menambahkan bahwa surat-surat Rasul juga mengekang
kebebasan manusia dengan mengajarkan bahwa hubungan seksual adalah hal yang
rendah padahal ini adalah hal yang alami dan indah. Semua ini semata-mata
hanyalah akal muslihat licik untuk menyembunyikan rahasia pernikahan Yesus.
Saat Constantine
menjadi kaisar Roma pada abad keempat, demi menyatukan kerajaannya dia
menjadikan agama Kristen sebagai agama negara. Maka sejarah gereja sangat
ironis karena kaisar yang tidak mengenal Allah inilah yang menentukan buku-buku
mana yang pantas dijadikan kitab Perjanjian Baru melalui konsili Nicea. Semua
buku-buku yang menyetujui keilahian Yesus dipilih sedangkan buku yang melihat
Yesus sebagai manusia biasa dibakar habis. Sejak saat itu umat Kristen mulai
melihat Yesus sebagai Allah walaupun sebelumnya dia hanyalah manusia biasa.
Gereja juga menjadi semakin kuat dan rahasia pernikahan Yesus semakin terkubur.
Akan tetapi ada orang-orang yang mengetahui kebenaran ini dan menyembunyikannya
dengan baik selama 2000 tahun ini. Mereka akhirnya membentuk suatu organisasi Priori
of Sion yang memiliki pengikut yang berupa ilmuwan dan seniman hebat seperti
Isaac Newton dan Leonardo Da Vinci. Dengan menyusun fakta dan fiksi secara
kreatif dan berselang-seling, penulis The Da Vinci Code mencoba
merobohkan sejarah kekristenan melalui mulut tokoh fiksi sejarahwan Leigh
Teibing.
Buku ini
ditanggapi dengan pujian dan kritik dari berbagai pihak. Di satu pihak, banyak
pengulas buku yang cukup terkenal seperti New York Times, Chicago Tribune,
Library Journal, dan masyarakat umum yang memuji bahwa buku ini sungguh
menarik dan mendidik, penuh dengan nilai-nilai seni dan sejarah. Di lain pihak,
para sejarahwan dan sejumlah pembaca mengeluh akan riset yang ceroboh dalam
buku ini, termasuk fakta sejarah dan deskripsi seni dan arsitek yang tidak
akurat dan bahkan salah. Sedangkan dari kalangan Kristen, banyak yang melihat
buku ini sebagai ancaman serius terhadap iman Kristen sehingga mereka
berapi-api menentang isi buku ini. Tetapi seperti dikatakan di atas, adanya
efek positif dari buku ini dengan munculnya minat terhadap sejarah gereja pada
sejumlah orang setelah membacanya. Efek positif ini dilihat oleh sebagian
gereja sebagai kesempatan untuk penginjilan. Karena buku ini memiliki pembaca
yang begitu luas maka ia merupakan topik diskusi yang dapat dijadikan sebuah
jembatan untuk mengabarkan Injil kepada banyak orang. Banyak gereja mengadakan
seminar dan pembahasan tentang pengaruh The Da Vinci Code untuk
sekaligus ‘menjaring jiwa’.
Jika kita meninjau
lebih dalam lagi, sebenarnya reaksi terhadap The Da Vinci Code terlalu
dibesar-besarkan, baik reaksi terhadap dampak positif maupun dampak negatifnya.
Dari segi mutu, The Da Vinci Code bahkan tidak memenuhi syarat-syarat
dasar dokumen sejarah (walaupun di’sah’kan oleh pengadilan sebagai dokumen
sejarah dengan memenangkan Dan Brown dari tuntutan pencurian ide), dan
serangannya terhadap iman Kristen juga hanya berdasarkan argumentasi yang mudah
dirobohkan. Secara esensi, buku ini menyerang dua doktrin dasar kekristenan,
yaitu doktrin Alkitab dan doktrin Kristus. Detil-detil lainnya hanyalah
implikasi lanjutan dari serangan terhadap dua doktrin dasar ini.
Doktrin Alkitab
menjawab pertanyaan penting seperti, “Apakah Alkitab itu? Mengapa Alkitab
adalah Firman Tuhan? Bagaimana Alkitab ditulis? Mengapa Alkitab diterima oleh
gereja sebagai Firman Tuhan?” Leigh Teibing mengatakan bahwa Alkitab bukan
Firman Allah. Alkitab tidak jatuh dari langit namun ditulis oleh tangan manusia
dan sudah mengalami pencatatan ulang selama ribuan tahun dan berbagai perubahan
versi. Kuasa manusialah yang menentukan buku-buku mana yang diturunkan kepada generasi
selanjutnya. Inilah doktrin Alkitabnya The Da Vinci Code. The Da
Vinci Code tidak memberikan ruang kepada Allah yang Mahakuasa untuk
memakai manusia ciptaan-Nya dalam menurunkan Firman-Nya. Asumsinya, kalau Allah
yang berfirman, buku-Nya harus jatuh dari langit. Apa barang-barang yang jatuh
dari langit langsung jadi Firman Allah? Dalam pengajaran teologi yang paling
dasar, doktrin Alkitab meninjau dengan ketat inspirasi, penulisan, otoritas,
kanonisasi, dan preservasi Kitab Suci yang Allah berikan dan bagaimana tuntunan
Roh Kudus sepanjang sejarah memampukan gereja Kristus mendengarkan suara Sang
Gembala, mengerti, dan menaati Firman-Nya. Seseorang yang memulai dari asumsi
yang bias dan tidak berdasar tidak dapat menjadi sejarahwan sejati. Demikianlah
kita perlu menelusuri sejarah penulisan dan pembentukan Alkitab dengan hati
yang terbuka untuk melihat keharmonisan semua fakta-fakta yang ada. Pada
akhirnya, umat pilihan akan melihat bahwa Firman Tuhan berkuasa menaklukkan
hati kita dan Firman Tuhan sendirilah yang harus menyatakan diri sebagai Firman
Tuhan sebab klaim mutlak seperti ini terlalu tinggi dan tidak mungkin untuk
dibuktikan oleh pikiran dan pengamatan manusia yang begitu terbatas.
Doktrin Kristus
mengajarkan tentang siapa Kristus dan karya Kristus, yang merupakan fondasi
dari kekristenan sendiri. The Da Vinci Code mereka-reka pernikahan
Yesus dengan Maria Magdalena yang tidak dapat dibuktikan secara sejarah maupun
logika. Gereja tidak bemula dari popularitas dan kuasa politik akan tetapi bertumbuh
melalui curahan darah pengorbanan kaum martir. Sejak semula gereja sudah
mempercayai keilahian Kristus sampai rela mempertaruhkan nyawa untuk
mengabarkan kematian dan kebangkitan-Nya. Seluruh pengharapan mereka terpancar
di dalam iman mereka yang begitu dalam terhadap Injil yang mereka beritakan.
Siapa yang segila itu bersedia menderita dan mengorbankan hidup mereka untuk
menyebarkan cerita yang mereka reka sendiri? Apa alasannya untuk terus
mengagungkan seorang kriminal di salib, yang hanya seorang manusia biasa,
sebagai Allah hingga meneteskan darah dan setia sampai nafas terakhir?
Pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena hanyalah khayalan yang tidak dapat di-trace
ke akar sejarah.
Di samping itu,
penulis buku ini sendiri pun terbukti belum membaca Alkitab dengan benar, akan
tetapi berani berkomentar panjang lebar tentang isi Alkitab. Dia mengatakan
bahwa Alkitab menolak kemanusiaan Kristus padahal kemanusiaan maupun keilahian
Kristus dinyatakan oleh kebenaran Alkitab dengan solid dan tanpa dikompromi.
Tentang martabat wanita, sesungguhnya dampak kekristenan melalui pengajaran
Alkitab sepanjang sejarah telah menempatkan hak asasi wanita pada posisi yang
seharusnya, yaitu sebagai manusia yang diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah
yang sama berharganya di mata Allah. Maka tuduhan bahwa Alkitab menurunkan
martabat wanita sama sekali tidak benar. Alkitab juga tidak menyalahkan
hubungan seksual seperti yang dituduh oleh The Da Vinci Code, akan
tetapi hanya melarang hubungan seksual di luar pernikahan. Hanya orang-orang
yang belum membaca atau mempelajari Alkitab yang dapat tertipu oleh rekaannya.
Doktrin Alkitab
dan doktrin Kristus adalah bagian dari ajaran Kristen yang paling dasar yang
memiliki akar yang sangat kokoh baik ditelusuri melalui Kitab Suci sendiri
maupun sejarah. Setiap orang Kristen seharusnya menerima dan mempelajari kedua
doktrin ini sebagai landasan yang paling dasar sejak awal mereka beriman pada
Kristus. Tetapi, kenyataan bahwa sebuah cerita fiktif (bukan dokumen sejarah)
dapat menggoyahkan iman begitu banyak orang Kristen benar-benar menunjukkan
betapa pengajaran Kristen yang paling dasar telah dilalaikan. Akibatnya,
umat Kristen berperang di peperangan yang begitu rendah mutunya – peperangan
melawan fiksi — yang bahkan dapat dilakukan oleh seseorang yang bukan Kristen.
Dalam hal ini, umat Kristen, terutama para pemimpin gereja, perlu merenungkan
kesetiaan mereka sebagai orang-orang yang sudah dipercayakan untuk bertanggung
jawab dalam mempertahankan dan mengajarkan kebenaran Allah.
Pada umumnya,
seorang pembaca tidak memerlukan iman Kristen dan pengertian doktrin tetapi
hanya memerlukan pengertian sejarah yang dasar untuk melihat kesalahan fakta
dan kronologi sejarah serta logika dari The Da Vinci Code. Misalnya,
konsili Nicea bukanlah konsili untuk kanonisasi, melainkan konsili Hippo yang
berakhir dengan konsili Carthage yang terjadi seabad setelah kematian
Constantine. Maka sudah tidak logis lagi untuk menyatakan bahwa Constantine
yang menentukan buku-buku Perjanjian Baru.
Walaupun kita
dapat memakai kesempatan penginjilan yang telah dihasilkan oleh penerbitan buku
ini dan bersukacita atas pertumbuhan minat masyarakat terhadap sejarah gereja,
sebenarnya kita lebih perlu lagi merenungkan dengan serius kelalaian kita dalam
peperangan yang sesungguhnya. Kita telah dipanggil untuk berperang dalam
peperangan yang lebih dahsyat, dan ini bukanlah sekedar bereaksi terhadap
setiap buku bestseller yang berisi ajaran sesat dan merasa puas karena
kita dapat menunjukkan kesalahannya sambil mengambil kesempatan ini
untuk melakukan aktifitas gerejawi so-called penginjilan. Di tingkat
ini, sebenarnya kita belum berperang dalam peperangan yang paling esensi
melainkan hanya mengikuti tuntutan pasar—hanya bereaksi terhadap pasar.
Kita juga perlu
mengingat bahwa popularitas The Da Vinci Code bukan semata-mata karena
ceritanya menarik, akan tetapi karena banyak orang yang senang sekali memakai
buku ini sebagai landasan untuk menolak Kristus maka semakin membaca mereka
semakin percaya. The Da Vinci Code bukan buku pertama dan tidak akan
menjadi buku terakhir yang menentang kebenaran. Akhir-akhir ini The Gospel
of Judas tiba-tiba muncul dan menarik begitu banyak perhatian masyarakat
sekali lagi. Belum seminggu sejak kemunculannya, sudah ada begitu banyak situs
dan documentary tentang buku injil yang konon ‘terhilang’ ini. Sebelum
Paskah, seperti biasanya ada ‘artikel-artikel sains’ yang terbit untuk
menyerang Alkitab dan kali ini mencoba membuktikan bahwa Yesus sebenarnya tidak
berjalan di atas air akan tetapi danau Galilea kebetulan sedang membeku saat
itu maka Yesus berjalan di atas es. Kalau kita tanggapi satu per satu secara
mendetil, kapan selesainya? Kalau ada seribu buku yang keluar yang
menggemparkan dunia, apa kita juga ikut-ikutan gempar dan sibuk menanggapi satu
demi satu?
Jika kita
menghitung jumlah tenaga, waktu, dan uang yang sudah dipakai oleh gereja-gereja
dan kalangan Kristen hanya demi menangani satu cerita fiktif ini, dapatkah kita
mengatakan bahwa kita sudah bertanggung jawab dengan baik dalam menggunakan
anugerah Allah yang dititipkan kepada kita? Apakah Allah akan membenarkan
respons kita? Jangan-jangan kita sedang mengerahkan seluruh pasukan negara
lengkap dengan senjata mutakhir untuk melawan beberapa orang musuh
bersenjatakan bambu runcing.
Gereja dipanggil
untuk berjalan di depan zaman dan memimpin arah sejarah dalam terang Firman
Tuhan, bukan malahan mengikuti arah perhatian dunia dan hanya sebagai yang
bereaksi seperti answering machine saja. Kita harus mampu menuntun
zaman berdasarkan visi kekekalan yang terlepas dari perangkap waktu dan
belenggu-belenggu dunia ini. Inilah panggilan gereja, baik secara pribadi
maupun kolektif, untuk berperang dalam perang sesungguhnya dengan bersenjatakan
Injil Kristus—suatu panggilan peperangan rohani yang menuntut pengertian
terhadap kebenaran Firman Tuhan secara solid. Gereja dipanngil untuk
berperang memberitakan Injil, menyatakan kebenaran Firman Tuhan dan memberikan
pengharapan kepada dunia yang sedang menuju kematian.
Panggilan kedua
adalah mandat budaya, termasuk membangun pengertian sejarah yang benar di dunia
ini. Hal ini akan memberkati orang-orang Kristen maupun yang bukan Kristen.
Phillip Schaff, seorang sejarahwan Protestan pada abad ke-19 mengemukakan
kualitas-kualitas dasar seorang sejarahwan sejati. Yang pertama adalah motivation.
Kita harus belajar mencintai apa yang benar, bukan hanya mendengar dan
menyebarkan data-data yang menarik tapi palsu. Yang kedua mengenai content
di mana kita perlu membangun pengetahuan terhadap sumber-sumber informasi kita
dan menganalisa kebenaran mereka. Yang ketiga adalah membangun fondasi yang solid
sebagai suatu framework untuk membuat penilaian sebab fakta-fakta
bukan keping-keping yang terpisah akan tetapi mereka memiliki hubungan satu
sama lain dan mengandung arti secara keseluruhan. Jikalau orang-orang Kristen
memenuhi panggilan mandat budaya dalam bidang sejarah dengan membangun filsafat
dan struktur sejarah yang solid, maka cerita fiktif seperti The Da
Vinci Code akan langsung terlihat essensi sebenarnya yakni dongeng
sehingga tidak perlu ‘kebakaran jenggot’ seperti yang telah terjadi sekarang.
Penjelasan
Likisan monalisan
coba bandingkan, katanya lukisan
monalisa adalah gambar diri davinci sendiri yang dilukis nya sambil bercermin.
Da Vinci Code! Lukisan Monalisa Adalah
Lukisan Wajah Leonardo Da Vinci Sendiri Whooila! unik dan aneh
Reviewer: Administrator Whooila - ItemReviewed: Da Vinci Code! Lukisan Monalisa Adalah Lukisan Wajah Leonardo Da Vinci Sendiri
Reviewer: Administrator Whooila - ItemReviewed: Da Vinci Code! Lukisan Monalisa Adalah Lukisan Wajah Leonardo Da Vinci Sendiri
Melalui pembahasan
di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pengaruh ekonomi dan besarnya resources
yang telah dihabiskan untuk The Da Vinci Code menunjukkan pada kita
kondisi rohani gereja yang sangat rendah dan betapa rusaknya dunia zaman ini.
Dalam kondisi seperti ini, fakta justru menunjukkan bahwa gereja tertidur
dengan lelap dan puas dengan aktifitas-aktifitas yang ada, jemaat nyaman dalam
ketidakmengertian akan kebenaran yang diimani, dan dunia semakin bersorak
gembira karena mendapat satu lagi dukungan tambahan untuk menolak Kristus.
Inilah krisis zaman kita sekarang! Lalu di manakah para pemuda-pemudi
Kristen yang militan dalam membela dan memperjuangkan imannya serta yang berani
menerobos krisis ini? Bangunlah hai pemuda-pemudi Kristen! Inilah panggilan
kita! Marilah kita kembali setia kepada kebenaran Firman Tuhan yang solid
di dalam Reformed Theology dan mengembangkan potensi yang sudah Tuhan
berikan dalam terang Firman Tuhan untuk berani memberitakan Injil dan menantang
serta membawa zaman ini kembali kepada-Nya! Soli Deo Gloria.
Demikian kata-kata Dan Brown mengawali filmnya
yang berjudul "DaVinci Code". Alur ceritanya merupakan perpaduan
antara fakta dan kebohongan yang diramu dengan sangat trampil. Penonton dibuat
menjadi ragu akan kebenaran ALkitab dan curiga terhadap gereja. Yang seperti
ini bukan pertama kali terjadi dalam sejarah. Bahkan dalam penciptaan dunia,
dikisahkan adanya 'lawan' yang berusaha menggiring seseorang menjadi ragu-ragu
terhadap kata-kata Tuhan, seperti yang terjadi pada Hawa, perempuan pertama
yang diciptakan Tuhan.
Ular adalah binatang yang paling licik dari segala binatang yang dibuat
oleh Tuhan Allah. Ular itu bertanya kepada perempuan itu, "Apakah Allah
benar-benar melarang kalian makan buah-buahan dari segala pohon di taman ini ?
" "Kami boleh makan buah-buahan dari setiap pohon didalam taman ini,
" jawab perempuan itu "kecuali dari pohon yang ada ditengah-tengah
taman. Allah melarang kami makan buah dari pohon itu ataupun menyentuhnya; jika
kami melakukannya, kami akan mati." Ular itu menjawab, "Itu tidak
benar; kalian tidak akan mati. (Kej.3:1-4)
Ular ini mempunyai nama lain : iblis, naga dan
setan
Lalu di surga terjadi peperangan. Mikhael bersama malaikat-malaikatnya
bertempur melawan naga itu. dan Naga itu pun, yang dibantu oleh
malaikat-malaikatnya, melawan mikhael. Tetapi naga itu dikalahkan. Ia dan
malaikat-malaikatnya tidak diizinkan lagi tinggal di surga . Naga yang besar
itu dibuang ke luar!Dialah ular tua itu yang bernama iblis atau Roh Jahat, yang
menipu seluruh dunia. Ia dibuang ke bumi dengan segala malaikatnya. (Why.
12:7-9).
Setan adalah bapak dari semua kebohongan,
termasuk kebohongan mengenai Alkitab dalam DaVinci Code, misalnya :
Kebohongan 1 : Dikatakan dalam
DaVinci Code bahwa Alkitab ditulis ulang oleh Kaisar Konstantinus Agung pada
abad ke-4 M.
Penulisan ke 66 kitab dalam Alkitab memakan waktu
sekitar 1500 tahun. Meskipun begitu, semuanya bercerita tentang satu cerita.
Cerita-cerita terdiri atas dua bagian: Perjanjian Lama (dari penciptaan sampai
menjelang kehidupan Yesus) dan Perjanjian Baru (kehidupan Yesus dan Gereja
mula-mula). Daftar buku-buku yang masuk dalam Perjanjian Lama sudah ditetapkan
sebelum kelahiran Yesus. Yesus sendiri mengutip dari kitab-kitab tersebut,
beberapa ayat untuk menunjuk kepada diri-Nya sendiri. Kepada orang-orang yang
menentang Dia, Ia berkata,
Kalian mempelajari Alkitab sebab menyangka bahwa dengan cara itu kalian
mempunyai hidup sejati dan kekal. Dan Alkitab itu sendiri memberi kesaksian
tentang Aku. Tetapi kalian tidak mau datang kepada-Ku untuk mendapat hidup
kekal ( Yoh. 5:39-40)
Setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus
menampakkan diri kepada dua murid-Nya dan berkata,
"Kalian memang bodoh! Terlalu lamban kalian untuk mempercayai
semua yang sudah dikatakan para nabi! Bukankah Raja Penyelamat harus mengalami
dahulu penderitaan itu, baru mencapai kemuliaan-Nya?" Kemudian Yesus
menerangkan kepada mereka apa yang tertulis di dalam seluruh Alkitab mengenai
diri-Nya, mulai dari buku-buku Musa dan buku para nabi. (Luk. 24:25-27)
Para murid Yesus menggunakan nubuat-nubuat dalam
Perjanjian Lama untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia,
Saudara-saudara keturunan Abraham, dan semua Saudara-saudara yang
lainnya di sini yang taat kepada Allah! Allah sudah mengirim kepada kita berita
keselamatan itu; sebab orang-orang yang tinggal di Yerusalem dan
pemimpin-pemimpin mereka tidak menyadari bahwa Dialah penyelamat itu. Mereka
tidak mengerti ajaran nabi-nabi yang dibacakan setiap hari Sabat, sehingga
mereka menghukum Yesus. Tetapi
justru dengan melakukan yang demikian mereka menyebabkan bahwa apa yang
dinubuatkan oleh nabi-nabi itu terjadi. Meskipun mereka tidak bisa menemukan
sesuatu pun pada-Nya yang patut dihukum dengan hukuman mati, namun mereka minta
kepada Pilatus supaya Ia dibunuh. Dan setelah mereka selesai
melaksanakan semuanya yang sudah tertulis dalam Alkitab tentang Dia, mereka
menurunkan jenazah-Nya dari kayu salib, lalu meletakkan-Nya di dalam kubur.
Tetapi Allah menghidupkan-Nya kembali dari kematian. Kemudian
berhari-hari lamanya Ia datang memperlihatkan diri kepada orang-orang yang
sudah datang dengan Dia dari Galilea ke Yerusalem. Mereka itulah yang sekarang
menjadi saksi-saksi utntuk Dia kepada bangsa Israel. Jadi, sekarang
ini kami menyampaikan Kabar Baik itu kepadamu: Apa yang Allah sudah janjikan
kepada nenek moyang kita... ( Kis 13:26-32)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar